Friday, 27 March 2015

#SayembaraReviewPM

#SayembaraReviewPM


          Belum pernah ikut sayembara onyol sebelumnya.. Selama ini cuma jadi penonton di Jumat Sayembara karena nyalinya masih lemah. Mudah-mudahan sih setelah ikut sayembara ini, nyalinya jadi sebuas serigala kayak nyalinya Kenanga dan para peserta Jumat Sayembara hehe..



1. After Heart (Rons Imawan)


          Saat saya membaca bagian awal cerita, pertamanya saya kurang mengerti sama jalan ceritanya, tapi pas udah mulai masuk bagian 1, saya sudah mulai mengerti, tapi tetap saja, berkali-kali saya menebak alurnya, berkali-kali saya salah menebaknya, berkali-kali pula saya terkejut dan terkagum-kagum dengan alur yang tidak terduga sama sekali. Bagaimana perjuangan Kenanga untuk mendapatkan 'kembali' hati Ismet pun selalu membuat saya tercengang, begitu pula dengan perjuangan Zulham. Namun, disaat saya sedang membaca dengan serius, munculah satu percakapan yang tidak bisa dibilang penting namun menyenangkan tentang Udin, yang sukses membuat saya tertawa sejenak di tengah-tengah keseriusan saya dalam membaca After Heart.

          Dan saat saya mengira bahwa cerita telah berakhir dengan manis dan indah, ternyata masih ada sedikit lanjutan cerita yang tidak diduga-duga dan membuat saya merasa bahwa masih ada satu kepingan puzzle yang belum tersusun dengan baik dan harus dirapikan agar menjadi satu puzzle yang utuh, dan akhirnya membentuk satu gambar: Dewanti dan Ismet.

          Saat saya membaca cerita ini, entah mengapa saya merasa bahwa cerita ini adalah perpaduan dari sisi Udin yang romantis, sisi Onyol yang konyol, dan sisi Rons yang sulit ditebak, yang menghasilkan suatu karya yang sempurna, akibat perpaduan dari ketiga sisi yang amat berlainan namun mengagumkan tersebut.

          Menurut saya, After Heart ini berhasil membuat saya seperti berada di dalam cerita saat saya membacanya karena penulisan imajinasinya yang sangat indah dan sukses. Karena imajinasi yang hebat + logika - penulisannya membosankan = sempurna.




2. Lamunan Jendela (Kwartika Ade Arimbi)


          Pertama baca cerita ini pas bagian awalnya udah langsung jatuh cinta, soalnya temanya 'cinta terpendam', seakan kisah sendiri dijadikan cerpen..

          Cinta terpendam itu menyakitkan, bahkan lebih menyakitkan daripada cinta yang bertepuk sebelah tangan. Karena cinta terpendam itu seakan-akan perasaan itu digantung tidak jelas, karena kita tidak tahu orang yang kita cintai atau sukai itu membalas perasaan kita atau tidak. Bahkan mungkin PHP lebih indah dari cinta terpendam, karena walaupun menyakitkan (dan menyebalkan), setidaknya masih ada 'sedikit' harapan, dibandingkan mencintai orang dari jauh dan kita tidak tahu masih punya harapan atau tidak dengan orang tersebut karena status cintanya itu 'terpendam'.

          Apalagi saat ketahuan sama orang yang disukai tapi ditolak, seperti saat Askar menolak Krasivaya, bahkan sampai dipermalukan, itu rasa sakitnya mungkin melebihi rasa sakit saat diputusin sama pacar yang dimana masa pacarannya itu sudah bertahun-tahun lamanya. Ditambah saat orang yang kita sukai ternyata sudah memiliki 'GPS' (atau pacar) di dalam hidupnya dan yang pastinya itu bukan kita, seakan-akan orang itu sedang 'mengiris' hati kita menjadi irisan-irisan kecil yang tidak ada gunanya, hancur. Dan belum puas dengan dengan itu, ia satukan kembali hati kita menggunakan lem lalu dilemparkannya hingga pecah berkeping-keping. Dan orang itu meninggalkan kita hancur tanpa tahu bahwa dia penyebab kehancuran itu dan meninggalkan 2 kemungkinan tentang hati kita yang sudah berantakan: 1. Menunggu hingga ada seseorang yang memulihkan hati kita, atau 2. Kita harus memulihkan hati sendiri, suka ataupun tidak suka. Terlihat berlebihan memang, tapi begitulah rasanya.

          Dan saya harus mengakui bahwa kondisi saya tidak jauh berbeda dari Krasivaya (walaupun tidak sampai dipermalukan dan sebisa mungkin jangan sampai dipermalukan). That's why I love this story, karena saya merasa bahwa saya punya 'teman' untuk berbagi perasaan sakit yang sama (walaupun teman itu fiktif).



3. Sumpah Konyol (Agfian Muntaha)


          Kita semua pasti pernah mengalami apa yang pernah Cahyo rasakan, bersalah tapi tidak mau mengakuinya. Namun, pasti respon kita pun berbeda-beda. Mungkin ada yang keras kepala tidak mau mengakui, atau ada juga yang baru akan mengaku setelah dimarahi. Dan saya amat sangat dibuat terkesan oleh cerita ini, bagaimana Cahyo, dengan kepolosan seorang anak yang baru berusia 10 tahun berusaha memperbaiki kesalahannya dengan caranya sendiri, dan tidak sama sekali melanggar sumpahnya yang telah ia buat walaupun dia bisa dengan mudah melanggarnya.

          Mungkin jarang zaman sekarang orang yang seperti Cahyo, mematuhi sumpah yang ia buat, kebanyakan pada bikin sumpah tapi ujung-ujungnya pada lupa.


          Dan Sumpah Konyol ini sebetulnya kurang lebih mencerminkan keadaan saat ini, dimana banyak orang yang mencuri (bahkan mencuri uang orangtua(atau rakyat)nya sendiri) hanya untuk kesenangan pribadi. Namun bedanya, zaman sekarang kebanyakan para 'pencuri' itu pandai bersilat lidah, saat ketahuan bukannya mengakui dengan gentle seperti Cahyo, malah membela dirinya habis-habisan seakan ia tak bersalah.

No comments:

Post a Comment