#SayembaraReviewPM
Belum pernah ikut
sayembara onyol sebelumnya.. Selama ini cuma jadi penonton di Jumat Sayembara
karena nyalinya masih lemah. Mudah-mudahan sih setelah ikut sayembara ini,
nyalinya jadi sebuas serigala kayak nyalinya Kenanga dan para peserta Jumat
Sayembara hehe..
1. After Heart (Rons Imawan)
Saat saya membaca bagian
awal cerita, pertamanya saya kurang mengerti sama jalan ceritanya, tapi pas
udah mulai masuk bagian 1, saya sudah mulai mengerti, tapi tetap saja,
berkali-kali saya menebak alurnya, berkali-kali saya salah menebaknya,
berkali-kali pula saya terkejut dan terkagum-kagum dengan alur yang tidak terduga
sama sekali. Bagaimana perjuangan Kenanga untuk mendapatkan 'kembali' hati
Ismet pun selalu membuat saya tercengang, begitu pula dengan perjuangan Zulham.
Namun, disaat saya sedang membaca dengan serius, munculah satu percakapan yang
tidak bisa dibilang penting namun menyenangkan tentang Udin, yang sukses
membuat saya tertawa sejenak di tengah-tengah keseriusan saya dalam membaca
After Heart.
Dan saat saya mengira
bahwa cerita telah berakhir dengan manis dan indah, ternyata masih ada sedikit
lanjutan cerita yang tidak diduga-duga dan membuat saya merasa bahwa masih ada
satu kepingan puzzle yang belum tersusun dengan baik dan harus dirapikan agar
menjadi satu puzzle yang utuh, dan akhirnya membentuk satu gambar: Dewanti dan
Ismet.
Saat saya membaca cerita
ini, entah mengapa saya merasa bahwa cerita ini adalah perpaduan dari sisi Udin
yang romantis, sisi Onyol yang konyol, dan sisi Rons yang sulit ditebak, yang
menghasilkan suatu karya yang sempurna, akibat perpaduan dari ketiga sisi yang
amat berlainan namun mengagumkan tersebut.
Menurut saya, After Heart
ini berhasil membuat saya seperti berada di dalam cerita saat saya membacanya karena penulisan
imajinasinya yang sangat indah dan sukses. Karena imajinasi yang hebat + logika
- penulisannya membosankan = sempurna.
2. Lamunan
Jendela (Kwartika Ade Arimbi)
Pertama baca cerita ini pas bagian
awalnya udah langsung jatuh cinta, soalnya temanya 'cinta terpendam', seakan
kisah sendiri dijadikan cerpen..
Cinta terpendam itu menyakitkan,
bahkan lebih menyakitkan daripada cinta yang bertepuk sebelah tangan. Karena
cinta terpendam itu seakan-akan perasaan itu digantung tidak jelas, karena kita
tidak tahu orang yang kita cintai atau sukai itu membalas perasaan kita atau
tidak. Bahkan mungkin PHP lebih indah dari cinta terpendam, karena walaupun
menyakitkan (dan menyebalkan), setidaknya masih ada 'sedikit' harapan,
dibandingkan mencintai orang dari jauh dan kita tidak tahu masih punya harapan
atau tidak dengan orang tersebut karena status cintanya itu 'terpendam'.
Apalagi saat ketahuan sama orang yang
disukai tapi ditolak, seperti saat Askar menolak Krasivaya, bahkan sampai
dipermalukan, itu rasa sakitnya mungkin melebihi rasa sakit saat diputusin sama
pacar yang dimana masa pacarannya itu sudah bertahun-tahun lamanya. Ditambah
saat orang yang kita sukai ternyata sudah memiliki 'GPS' (atau pacar) di dalam
hidupnya dan yang pastinya itu bukan kita, seakan-akan orang itu sedang
'mengiris' hati kita menjadi irisan-irisan kecil yang tidak ada gunanya,
hancur. Dan belum puas dengan dengan itu, ia satukan kembali hati kita
menggunakan lem lalu dilemparkannya hingga pecah berkeping-keping. Dan orang
itu meninggalkan kita hancur tanpa tahu bahwa dia penyebab kehancuran itu dan
meninggalkan 2 kemungkinan tentang hati kita yang sudah berantakan: 1. Menunggu
hingga ada seseorang yang memulihkan hati kita, atau 2. Kita harus memulihkan
hati sendiri, suka ataupun tidak suka. Terlihat berlebihan memang, tapi
begitulah rasanya.
Dan saya harus mengakui bahwa kondisi
saya tidak jauh berbeda dari Krasivaya (walaupun tidak sampai dipermalukan dan
sebisa mungkin jangan sampai dipermalukan). That's why I love this story,
karena saya merasa bahwa saya punya 'teman' untuk berbagi perasaan sakit yang
sama (walaupun teman itu fiktif).
3. Sumpah
Konyol (Agfian Muntaha)
Kita semua pasti pernah mengalami apa
yang pernah Cahyo rasakan, bersalah tapi tidak mau mengakuinya. Namun, pasti
respon kita pun berbeda-beda. Mungkin ada yang keras kepala tidak mau mengakui,
atau ada juga yang baru akan mengaku setelah dimarahi. Dan saya amat sangat
dibuat terkesan oleh cerita ini, bagaimana Cahyo, dengan kepolosan seorang anak yang baru berusia 10 tahun berusaha memperbaiki kesalahannya dengan caranya sendiri, dan
tidak sama sekali melanggar sumpahnya yang telah ia buat walaupun dia bisa dengan mudah melanggarnya.
Mungkin jarang zaman sekarang orang
yang seperti Cahyo, mematuhi sumpah yang ia buat, kebanyakan pada bikin sumpah
tapi ujung-ujungnya pada lupa.
Dan
Sumpah Konyol ini sebetulnya kurang lebih mencerminkan keadaan saat ini, dimana
banyak orang yang mencuri (bahkan mencuri uang orangtua(atau rakyat)nya
sendiri) hanya untuk kesenangan pribadi. Namun bedanya, zaman sekarang
kebanyakan para 'pencuri' itu pandai bersilat lidah, saat ketahuan bukannya
mengakui dengan gentle seperti Cahyo, malah membela dirinya habis-habisan
seakan ia tak bersalah.